Tuesday, 23 December 2008

Jangan Lupa kalau Jabatan itu adalah Amanah

Beberapa lama aku gak bisa nulis buat posting di blog ini. Sebulan setengah lamanya aku harus menjalani diklat Pim. IV di pusdiklat. Setelah diklatnya selesai, tidak serta merta aku punya banyak waktu luang untuk blog ini. Ya paling-paling buka-buka link blogger yang mampir sambil nambah-nambah temen buat memperbaiki peringkat blog ini. Alhamdulillah akhirnya aku bisa mencurahkan fikiran lagi di blog ini. Isi postingannya adalah oleh-oleh sewaktu diklat, tepatnya pas acara pembukaan ada sambutan dari pejabat LAN tentang percakapan Imam Al Ghazali dengan murid-muridnya yang isinya kurang lebih seperti ini:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 = ” Negeri Cina “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Imam Ghazali: “Apa yang paling berat didunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”
Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “
Imam Ghazali = “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?“
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185). “
Dari semua poin dalam percakapan di atas, perihal amanah adalah masalah yang diangkat sebagai tema sentral oleh sang pembicara. Maklum, diklatnya kan tentang kepemimpinan, jadi amanah adalah tema yang paling relevan dengan diklat tersebut.
Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin atau pejabat. Memang bagi sebagian orang atau bahkan mungkin aku sendiri, menjadi pemimpin atau dengan istilah lain “pejabat” adalah merupakan kebanggaan. Bagaimana tidak, seorang pejabat pasti dihormati bawahan, mendapatkan penghasilan lebih baik, menunjukkan prestasi sekaligus prestise seseorang. Jabatan adalah hal yang juga dapat “dipamerkan” kepada keluarga, teman atau tetangga. Pokoknya banyak sekali hal-hal yang membuat orang berebut untuk menjadi seorang pejabat.
Orang sering lupa bahwa di balik semua itu ada hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu amanah. Menjadi pemimpin berarti dia tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri tetapi juga bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dipimpinnya sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang amir (raja) memelihara rakyat dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Sorang suami memimpin keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Seorang ibu memimpin rumah suaminya dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta milik majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkanlah bahwa kalian semua memelihara dan akan dituntut tentang pemeliharaannya. (HR. Bukhari, Muslim)
Jika melihat isi hadits tersebut, pantas saja Imam Al Ghazali berpendapat bahwa amanah itu beratnya melebihi apapun yang ada di dunia ini seperti yang tersirat dalam percakaan beliau dengan murid-muridnya di atas.

Hal tersebut juga Nampak dalam hadits berikut.
Al Hasan berkata : Ubaidillah bin Ziyaad menjenguk Ma’qil bin Yasaar r.a. ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, maka Ma’qil berkata kepada Ubaidillah bin Ziyaad : Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah saw : aku telah mendengar Nabi saw bersabda : tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya bau surga (melainkan tidak mendapat bau surga) (HR. Bukhari, Muslim)

Mudah-mudahan Allah membimbing kita untuk dapat mengikuti jalan-Nya yang lurus dan benar. Sehingga kita selalu ingat bahwa menjadi pemimpin atau pejabat adalah amanah. Semoga Dzat Yang Maha Bijaksana mengajarkan kepada kita kebijaksanaan jika kita diberi amanah untuk memimpin dan senantiasa mengampuni dosa kita jika sekiranya dalam menjalankan amanah itu kita melakukan kesalahan. Semoga Allah SWT menjadikan kita pemimpin yang adil sehingga kita termasuk ke dalam golongan yang akan dinaungi Allah di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya sebagaimana hadits yang yang bunyinya :

Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1. Pemimpin yang adil, 2. Pemuda yg senantiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya, 3. Orang yang hatinya senantiasa berpaut pada masjid-masjid 4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5. Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang cantik untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', 6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan 7. Seseorang yang mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dari kedua matanya" (HR. Bukhari & Muslim)



4 comments: