Friday, 1 January 2016

Wisata Sedekah: Wisata Alternatif Mengisi Liburan yang Murah, Meriah dan Bermanfaat



Jika Anda bingung bagaimana mengisi liburan karena tidak ada budget, wisata sedekah adalah alternatifnya. Tidak perlu jauh-jauh, tidak perlu biaya besar, tetapi dijamin Anda mendapatkan kebahagiaan melebihi apa yang dapat diraih dengan liburan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalipun. Berwisata keliling-keliling kota atau kampung sambil membagikan beberapa paket sembako bersama keluarga merupakan hiburan yang tidak cuma menyenangkan, tetapi juga bisa meningkatkan keimanan sekaligus mendidik anak-anak untuk memiliki jiwa sosial.

Caranya cukup sediakan beberapa paket sembako menurut kemampuan, boleh 5 atau 10 paket. Isinya juga terserah Anda, boleh minyak goreng, gula, teh, susu, mie instant, dll. Bawalah paket-paket itu keliling-keliling. Tugaskan anak Anda untuk mengamati orang yang ditemui di jalan yang kira-kira pantas untuk menerima sedekah. Boleh pedagang kecil, orang tua, pemulung, satpam atau apa saja, tetapi saya tidak menyarankan untuk memberikannya kepada “pengemis professional”.

Hal itu merupakan proses “coaching” kepada anak-anak untuk peka terhadap lingkungan di sekitarnya bahwa banyak sekali orang yang butuh bantuan serta mendidik mereka untuk bersyukur bahwa Allah masih memudahkan rezeki bagi keluarga Anda.

Setiap Anda menemukan orang yang pantas menerima sedekah, berhentilah dan bagikan satu paket. Kemudian lanjutkan perjalanan lagi untuk mencari “korban” berikutnya. Bisa juga divariasi dengan melakukan kunjungan kepada kerabat atau kenalan yang Anda pandang pantas untuk menerima sedekah sambil menyambung silaturahim. Ceritakan kepada anak-anak bahwa menyambung silaturahim juga merupakan amalan yang dapat membawa kita ke surga sebagaimana hadits berikut.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari).

Silahkan coba tips ini dan rasakan kebahagiaan yang luar biasa menyelimuti diri Anda dan keluarga. Berwisata, bersedekah, dan mendidik anak menjadi satu paket murah meriah dan bermanfaat. Lakukan ini sebulan sekali atau beberapa bulan sekali. Mudah-mudahan dapat membawa barakah untuk Anda dan sekeluarga.

Baca Juga
Berangkat Umroh berbekal setengah cangkir kopi

Baca Selengkapnya......

Thursday, 31 December 2015

Berangkat Umroh Berbekal Setengah Cangkir Kopi: Refleksi Nilai Pemberian Sederhana yang Berbuah karunia


Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”
Al Zalzalah (QS. 99:7-8)

Berangkat umroh "gratis" (lebih tepatnya atas biaya dinas) karena kebiasaan berbagi setengah cangkir kopi. Kisah nyata ini merupakan bukti kebenaran janji Allah SWT. Waktu kejadian peristiwa ini memang sudah lama, sekitar 10 tahun yang lalu. Namun, latar belakang yang menjadikan keajaiban ini terjadi baru disadari belakangan ini.
Syahdan, pada Tahun 1999 aku mulai bekerja di suatu instansi pemerintahan. Di situ aku bekerja sebagai auditor. Dalam awal masa kerjaku, aku belum mendapat tugas untuk melakukan audit, mungkin Karena masih baru dan masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi sebelum melakukan tugas mulia itu. Oleh karena itu, hari-hari tugasku hanya mengetik laporan ini laporan itu di kantor.
Pada masa itu, fasilitas perkantoran seperti komputer, printer, ATK dll masih sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk mendukung kelancaran tugas, aku kadang minjem sana minjem sini. Yang penting kerjaan bisa selesai, hanya itu yang ada di benakku. Keadaan itu rupanya ada hikmahnya. Sering ke sana ke mari membuat aku cepat kenal dengan banyak orang di luar ruangan kerjaku. Malahan, daripada gak ada kerjaan, aku kadang bantu kerjaan ruangan lain sambil melancarkan keterampilan Ms.Word-ku yang kala itu masih merupakan aplikasi baru di dunia perkantoran menggantikan Word Star (WS).
Salah satu orang yang aku kenal saat itu adalah Pak Suyatna. Ia adalah kepala seksi di ruangan sebelah. Kebetulan sama-sama orang Sunda, obrolan pun sering berlangsung dalam bahasa asal kami. Saat itu, frekuensi kami bertemu tidak terlalu sering karena kesibukan beliau yang sering tugas keluar kantor untuk melakukan audit. Alhasil hanya sekali-kali saja kami bias ngobrol.
Hingga suatu saat, aku bergabung dengan salah satu perusahaan MLM yang salah satu produknya adalah kopi yang mengandung ramuan herbal. Katanya kopi itu aman buat orang yang punya penyakit menahun termasuk darah tinggi. Kopi itu pun menjadi produk yang sering aku bawa ke kantor.
Dari obrolan dengan orang-orang di ruangan sebelah, aku dengar kalau Pak Suyatna punya penyakit darah tinggi. Akupun berinisiatif untuk berbagi kopi itu dengan beliau. Karena jatah kopi yang kubawa hanya satu bungkus sehari, akhirnya aku tawarkan ke Pak Suyatna apakah beliau mau kalau kopinya Cuma setengah cangkir saja. Tidak dinyana, ternyata beliau bersedia. Kebiasaan itupun akhirnya sering aku lakukan setiap bertemu beliau.
Ternyata, pemberian yang sedikit itu pun berbuah banyak. Pada akhir Tahun 1999 aku dapat beasiswa tugas belajar ke kota Malang untuk menyelesaikan pendidikan S1. Sebuah kejutan yang luar biasa, sebelum berangkat Pak Suyatna membekali aku sejumlah uang yang cukup buat aku untuk bayar DP uang sewa rumah selama kuliah.
Keajaiban pemberian sederhana itu pun berlanjut. Tiap ketemu, Pak Suyatna sering memberiku sejumlah uang sekedar untuk menambah bekal hidup yang kala itu masih pas-pasan. Maklum statusku kan Cuma PNS golongan II. Puncaknya terjadi Tahun 2005. Nasib baik Pak Suyatna promosi ke level pejabat eselon 3 ternyata menjadi cikal bakal untukku berngkat ke Baitullah untuk pertama kalinya. Pak Suyatna ditugaskan untuk melakukan audit ke Kedutaan Besar Turki dan Mesir. Tidak disangka ternyata beliau menyertakan aku untuk menjadi salah satu anggota tim audit itu. Suatu hal yang cukup istimewa, mengingat aku bukanlah anak buahnya karena aku berada di unit kerja yang berbeda.
Perjalanan itu pun menjadi sejarah besar dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku bisa pergi ke luar negeri, tidak tangung-tanggung, langsung tiga Negara. Perjalanan di mulai dengan kegiatan audit di Turki dan dilanjutkan ke Negeri Mesir. Skenario perjalanan pulang ke Indonesia memang harus transit, kalau tidak via Dubai, ya lewat Jeddah. Tentu saja kami memilih pulang transit via Jeddah agar bisa sekalian menjalankan ibadah umroh. Untuk keperluan itu, kami meminta izin cuti untuk melanjutkan umroh ke Mekkah. Selepas itu, kami pun melanjutkan ziarah ke Madinah, berziarah ke Makam kekasih Allah Rasulullah Muhammad SAW. 
Alhamdulillah, saat yang tidak dapat dilupakan. Bergetar rasanya hati saat mengucapkan kalimah talbiyah. Air mata pun bercucuran. Betapa besar karunia yang telah Allah karuniakan, terlebih saat itu memasuki bulan suci Ramadhan.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu
Betapa besar karunia yang aku terima saat itu. Tidak pernah bosan kuucapkan rasa syukurku kepada Yang Maha Kuasa Sang Pemberi Rahmat. Janji Allah adalah benar. Kita hanya perlu yakin karena karunia itu mudah bagi Allah SWT untuk diberikan kepada siapa saja yang Ia suka. 

Baca Juga:
Apa itu gelombang Alpha, Beta, Tetha dan Delta
Free Download MP3 - Murotal Sh. Saad Al Ghamidi
Value Based Leadership: Sebuah Journey Menuju Penciptaan Karakter Seorang Pemimpin yang Memiliki Nilai Manfaat

 

Baca Selengkapnya......

Sunday, 4 October 2009

Pelajaran Di Balik Saat Kejadian Gempa Padang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa bumi tektonik di Padang Sumatera Barat terjadi pada pk 17.16 WIB, hari Rabu tanggal 30/9 Tahun 2009, dengan kekuatan 7.6SR. Lokasi gempa bumi berjarak lebih kurang 57 Km Barat Daya Pariaman-Sumbar dengan kedalaman 71 Km. Gempabumi tersebut dirasakan di Gunung Sitoli, Mukomuko, Sibolga, Liwa, Padang, Jakarta, Singapura hingga Malaysia.

Gempa tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan musibah yang sangat besar karena telah meluluhlantakan kota Padang sedemikian rupa. Semua orang terutama orang Islam yakin musibah ini adalah kehendak Allah SWT untuk memperingatkan hambaNya atas segala perbuatan yang telah dilakukan. 

Dengan keyakinan bahwa bencana tersebut adalah peringatan dari Allah SWT, maka ada baiknya kalau kita tengok Al Qur’an sebagai kitab yang salah satu fungsinya Allah SWT tetapkan sebagai peringatan kepada seluruh umat manusia. Mungkin ini akan jadi perdebatan. Banyak orang menganggap ada pesan dalam gempa tersebut yang dapat dijadikan sebagai pelajaran. Secara kebetulan, gempa tersebut terjadi pada pk 17.16 WIB dan tanggal kejadian yang jatuh pada tanggal 30 bulan 9.

Kalau kita buka Al Qur’an Surat ke 17 yaitu Surat Al Isra ayat 16 (QS 17:16) maka sungguh mengejutkan bahwa dalam ayat tersebut diterangkan mengenai salah satu sebab terjadinya bencana yang terjadi pada suatu negeri merupakan akibat dari kedurhakaan dari orang-orang yang hidup mewah di negeri itu.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al Isra-17:16)

Tidak sampai di situ, waktu gempa susulannya adalah pk 17.38 WIB. dalam Surat Al Isra ayat 38 disebutkan tentang perbuatn-perbuatan apa saja yang dibenci oleh Allah SWT. 

Semua itu(*) kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (QS Al Isra-17:38) 

(*) Maksudnya: semua larangan yang tersebut pada ayat-ayat: 22, 23, 26, 29, 31, 32, 33, 34, 36, dan 37 surat ini. Yaitu sebagai berikut:

22. Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). 

23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[**] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
[**]. Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu pemurah.

31. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. 


32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan[***] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
[***]. Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat.

34. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.  

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Kalau dilihat dari tanggal kejadian yang jatuh pada tangal 30/9 maka dalam QS Ar Ruum ayat 9 (QS. 30:9) diterangkan juga bahwa semua bencana terjadi bukan karena Allah zalim kepada mereka melainkan merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar Ruum-30:9)

Semoga ini hanya untuk bermuhasabah atau mengevaluasi kehidupan kita apakah sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Mungkin ada yang tidak sependapat. Tulisan ini bukan bermaksud menghubung-hubungkan. Hanya saja, waktu kejadian itu memberikan inspirasi bagi penulis untuk melihat dan membaca makna dari ayat-ayat Al Quran. Ternyata, inilah isi Al Quran yang penulis jadikan sebagai renungan karena semua isinya benar-benar mengejutkan karena berisi peringatan sebagaimana telah diuraikan di atas. Semoga dengan peringatan ini kita selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan dengan Sunah Rasulullah SAW sebagai petunjuk teknis pelaksanaannya.
Wallahu a`lam bis-shawab

Baca Selengkapnya......

Wednesday, 26 August 2009

Muhasabah : Apa yang salah dengan puasa kita

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati Ramadhan tahun ini. Solawat serta salam selalu tercurah kepada manusia paling mulia, tauladan kita semua Rasulullah Muhammad SAW.

Puasa adalah ibadah yang unik tidak seperti ibadah lainnya karena satu-satunya ibadah ragawi yang hanya orang yang melaksanakan dan Allah SWT saja yang mengetahui kalau puasa itu dilakukan atau tidak. Oleh karena itu, sesungguhnya puasa itu hanya akan dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah SWT karena ia senantiasa sadar bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak mungkin baginya untuk mengkhianati puasanya kendati tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Sungguh benarlah firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat 183 bahwa puasa itu akan menuntun seorang mukmin untuk mencapai derajat taqwa.

Anehnya, kalau diperhatikan banyak di antara kita yang getol puasa namun tidak seperti orang yang benar-benar taqwa dalam arti masih juga (sadar atau tidak sadar) melanggar apa yang dilarang oleh Allah dan enggan menjalankan perintahNya seakan-akan kurang yakin bahwa segala keburukan akan dibalas dengan neraka dan setiap kebaikan akan membawa seseorang ke dalam surganya Allah SWT.

Marilah kita bermuhasabah mungkin iman kita belum sempurna sehingga kita tidak yakin dengan segala yang Allah SWT firmankan dalam Al Qur'an. Kita mungkin beriman kepada Allah sehingga kita mau berpuasa, tapi mungkin kita belum menyempurnakan rukun-rukun iman yang lain seperti beriman kepada malaikat dengan meniru sifat-sifat malaikat yang selalu patuh pada perintah Allah SWT tanpa kecuali; iman kepada kitab Allah dengan menjadikan Al Qur'an sebagai satu-satunya pedoman hidup, iman kepada Rasul Allah dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam setiap langkah dan gerak hidup kita; iman kepada hari akhir dengan menyadari bahwa setiap perbuatan selalu ada konsekuensi yang harus kita tanggung di hari akhir sehingga membawa kita untuk selalu melakukan perbuatan yang akan berbuah surganya Allah dan menghindari segala perbuatan yang berujung kepada neraka; dan iman kepada qadla dan qadar yang selalu menyadarkan kita bahwa setiap kejadian adalah merupakan kehendak Yang Maha Berkehendak yaitu Allah.

Dengan mengevaluasi hal-hal tersebut diharapkan kita akan selalu ingat dan sadar bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini yang terpenting adalah selalu berada di jalanNya tanpa sedikit pun penolakan baik yang berasal dari hati maupun dari akal kita.

Semoga di bulan yang baik ini, kita diberi petunjuk oleh Allah untuk dapat memperbaiki diri dan menyempurnakan keimanan kita kepada Allah SWT. Amiin



Baca Selengkapnya......

Sunday, 29 March 2009

Ketenangan Hati Hanyalah Permainan Hati - Kisah Abunawas yang Sarat dengan Makna

"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian sebenarnya".

Perasaan sedih dan gembira sebenarnya tidak bergantung pada keadaan itu menyenangkan atau tidak, tapi lebih pada cara pandang kita terhadap keadaan yang sedang kita hadapi. Ketika kesulitan tengah merundung, kadang kita malah bersyukur karena kita sadar bahwa kesulitan itu adalah ujian dari Allah yang justru akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, kadang kita justru mengeluh ketika ketika mendapatkan keuntungan tetapi besarnya tidak mencapai target yang kita inginkan.
Ada kisah Abunawas yang menurut saya sangat cerdas dalam menggambarkan bagaimana ketenangan hati itu hanyalah permainan (sebut saja “manajemen”) kalbu dalam menyikapi persoalan hidup. Bagi yang berminat silahkan baca kisah yang menggelikan tapi sarat dengan hikmah berikut ini.

Sudah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap baginda. Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja keadaan kedai tidak semarak karena Abunawas Si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. Ia mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapai.
salah satu teman Abunawas ingin mencoba menolong.
"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu", kata kawan Abunawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia", kata orang itu membeberkan kesulitannya.
Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya. sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abunawas sedang mengaji. Setelah mengutarakan kesdulitan yang sedang dialami, Abunawas bertanya kepada orang itu.
"Punyakah engkau seekor domba?".
"Tidak tetapi aku mampu membelinya", jawab orang itu.
"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu", Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abunawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abunawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba", kata orang itu mengeluh.
"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli beberapa ekor unggas yang kemudian dimsukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu datang algi ke rumah Abunawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami bertambah tersiksa", kata orang itu dengan wajah yang semakin muram.
"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu", kata Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung ke pasar hewan membeli seekor unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abunawas. ia berkata,
"Wahai Abunawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi mengerikan daripada hari-hari sebelumnya. Wahai Abunawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binantang itu", kata orang itu putus asa.
"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan, ,aka juallah anak-unta itu" kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual anak unta yang baru dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abunawas pergi ke rumah orang itu.
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?", Abunawas bertanya.
"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal di sini", kata orang itu tersenyum. " baiklah, kalu begitu sekarang juallah unggas-unggasmu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abunawas mengunjungi orang itu.
"bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?", Abunawas bertanya.
"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak tinggal bersama kami" kata orang itu dengan wajah ceria.
"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang ahti ia langsung menjual dombanya.
Beberapa hari kemudian Abunawas bertamu ke rumah orang itu. Ia bertanya.
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?".
"Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi bersama kami. Dan kami sekarang merasa lebih bahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abunawas", kata orang itu dengan berseri-seri.
"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu", kata Abunawas menjelaskan.
Dan sebelum Abunawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,
"Apakah engkau sering berdoa?".
"Ya", jawab orang itu.
"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian sebenarnya".



Baca Selengkapnya......

Monday, 12 January 2009

Do’a Untuk Saudara Kami di Palestina

Tak pernah lelah setiap hari media massa memberitakan kalau Zionis Israel laknatullah terus melancarkan serangan militer ke jalur Gaza. Sedih bercampur geram rasanya hati ini manakala mendengar semakin banyak wanita dan anak-anak yang menjadi tumpuan masa depan Palestina yang tewas dalam agresi militer tersebut. “Ya Allah, bencana ini bisa terjadi pastilah atas kehendak dan kekuasaan-Mu” demikian hati ini bergumam. “Entah hikmah apa yang ingin engkau tunjukkan kepada kami yang lemah dan bodoh ini” kembali hati ini bertanya-tanya.

Semoga saja hal ini terjadi karena memang derajat keimanan mereka sangatlah tinggi sehingga ujian ini masih Allah SWT tibakan untuk mereka sebagaimana Firman-Nya :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al 'Ankabuut : 2-5)

Ya Allah datangkanlah azab-Mu kepada mereka yang telah berbuat kezaliman kepada saudara kami dan berikanlah balasan yang sempurna atas amal-amal saleh saudara-saudaraku yang tengah menghadapai ujian itu sebagaimana janji-Mu :

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar (QS. Al Buruuj : 10-11).

Aku yakin bahwa Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang baik untuk kami dan saudara kami dan kapan saat baik itu akan datang karena sesungguhnya Engkau telah berfirman :

Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh (QS. Al Qalam : 44-45).

Semoga Engkau berkenan untuk mendengar dan mengabulkan do’a kami yaa Allah.
Amiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.


Baca Selengkapnya......

Friday, 2 January 2009

Jangan Pernah Tinggalkan Shalat !!!!!

Suatu siang saat aku hendak menunaikan shalat dzuhur di mesjid yang berlokasi di pasar tempat usaha yang dikelola istriku, aku melihat seorang pedagang mainan anak yang sedang tidur lelap di beranda mesjid. Saking lelapnya, ia tidak mengetahui bahwa sepeda yang digunakannya untuk menjajakan barang dagangannya roboh diterpa angin yang hari itu bertiup cukup kencang. Sejenak aku merasa iba pada keaadaan bapak yang terlihat sangat lelah dan lusuh itu. Betapa, untuk mengais rezeki yang hendak ia gunakan untuk menafkahi keluarganya, ia harus menguras tenaganya dengan mengayuh sepeda tua ke sana ke mari untuk mencari pembeli. Sungguh tidak terbayangkan jika aku harus menjalani usaha dengan cara seperti itu.

Akan tetapi, hatiku menjadi miris manakala aku mengetahui bahwa bapak pedagang mainan itu mampir ke mesjid hanya untuk melepaskan rasa lelah. Begitu bangun, ia segera berlalu tanpa menunaikan shalat dzuhur terlebih dahulu. Sungguh sedih rasanya melihat fenomena seperti itu. Banyak sekali umat islam semacam bapak pedagang mainan itu yang mau bersusah payah untuk mencari rezeki walaupun menurut hitungan matematis tidak juga membuat ia dapat hidup dengan layak tetapi dengan mudahnya meninggalkan shalat.

Pantas saja Imam Al Ghazali berpendapat bahwa hal yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan shalat seperti terlihat dalam kutipan percakapan beliau dengan muridnya yang pernah dimuat dalam postingan sebelumnya (link). Kutipan percakapan tersebut bunyinya kurang lebih sebagai berikut.
Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “

Mungkin zaman sekarang sudah dipenuhi generasi yang suka menyia-nyiakan shalat seperti yang difirmankan ALLAH SWT dalam QS. Maryam: 58-60.
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun."


Ibnu Katsir menjelaskan, generasi “adhoo’ush sholaat” yang dijelaskan dalam ayat di atas adalah orang yang jauh dari agama. Untuk urusan shalat saja mereka sudah menyia-nyiakan, apalagi untuk kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu merupakan tiang agama dan pilarnya serta sebaik-baik perbuatan seorang hamba, maka pastilah kualitas beragama orang yang menyia-nyiakan shalat pastilah sangat rendah. Tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia, maka pastilah mereka itu akan menemui kesesatan yang artinya mereka pasti akan menemukan kerugian di hari qiyamat.
Orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah merugi. Bahkan status keimanan seseorang sangat diragukan sebagaimana tercermin dalam hadits :

“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Dalam QS. Maryam: 58-60 di atas diceritakan mengenai orang-orang saleh, terpilih, dan nabi-nabi yang sangat patuh kepada Allah SWT. Ketaatan itu ditunjukkan dengan cara mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun dalam ayat selanjutnya, Allah SWT memberitakan bahwa setelah generasi itu datanglah generasi pengganti yang memiliki sifat-sifat yang jauh berbeda dengan sifat generasi pendahulunya, yakni suka menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.

Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa peringatan Allah SWT terhadap orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah keras. Oleh karena itu marilah kita menjaga diri kita untuk menunaikan ibadah shalat secara kontinyu. Jangan lagi menganggap shalat sebagai urusan yang remeh sebagaimana kita saksikan para selebritis di TV yang dengan entengnya mengatakan bahwa dirinya mengerjalan shalat tapi shalatnya masih bolong-bolong tanpa merasa takut sedikitpun bahwa perilakunya yang kadang-kadang meninggalkan shalat adalah bentuk menyia-nyiakan shalat. Jangan lupa pula ingatkan orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga, sahabat, karyawan dan lain sebagainya untuk menunaikan shalat.



Baca Selengkapnya......