Thursday, 31 December 2015

Berangkat Umroh Berbekal Setengah Cangkir Kopi: Refleksi Nilai Pemberian Sederhana yang Berbuah karunia


Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”
Al Zalzalah (QS. 99:7-8)

Berangkat umroh "gratis" (lebih tepatnya atas biaya dinas) karena kebiasaan berbagi setengah cangkir kopi. Kisah nyata ini merupakan bukti kebenaran janji Allah SWT. Waktu kejadian peristiwa ini memang sudah lama, sekitar 10 tahun yang lalu. Namun, latar belakang yang menjadikan keajaiban ini terjadi baru disadari belakangan ini.
Syahdan, pada Tahun 1999 aku mulai bekerja di suatu instansi pemerintahan. Di situ aku bekerja sebagai auditor. Dalam awal masa kerjaku, aku belum mendapat tugas untuk melakukan audit, mungkin Karena masih baru dan masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi sebelum melakukan tugas mulia itu. Oleh karena itu, hari-hari tugasku hanya mengetik laporan ini laporan itu di kantor.
Pada masa itu, fasilitas perkantoran seperti komputer, printer, ATK dll masih sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk mendukung kelancaran tugas, aku kadang minjem sana minjem sini. Yang penting kerjaan bisa selesai, hanya itu yang ada di benakku. Keadaan itu rupanya ada hikmahnya. Sering ke sana ke mari membuat aku cepat kenal dengan banyak orang di luar ruangan kerjaku. Malahan, daripada gak ada kerjaan, aku kadang bantu kerjaan ruangan lain sambil melancarkan keterampilan Ms.Word-ku yang kala itu masih merupakan aplikasi baru di dunia perkantoran menggantikan Word Star (WS).
Salah satu orang yang aku kenal saat itu adalah Pak Suyatna. Ia adalah kepala seksi di ruangan sebelah. Kebetulan sama-sama orang Sunda, obrolan pun sering berlangsung dalam bahasa asal kami. Saat itu, frekuensi kami bertemu tidak terlalu sering karena kesibukan beliau yang sering tugas keluar kantor untuk melakukan audit. Alhasil hanya sekali-kali saja kami bias ngobrol.
Hingga suatu saat, aku bergabung dengan salah satu perusahaan MLM yang salah satu produknya adalah kopi yang mengandung ramuan herbal. Katanya kopi itu aman buat orang yang punya penyakit menahun termasuk darah tinggi. Kopi itu pun menjadi produk yang sering aku bawa ke kantor.
Dari obrolan dengan orang-orang di ruangan sebelah, aku dengar kalau Pak Suyatna punya penyakit darah tinggi. Akupun berinisiatif untuk berbagi kopi itu dengan beliau. Karena jatah kopi yang kubawa hanya satu bungkus sehari, akhirnya aku tawarkan ke Pak Suyatna apakah beliau mau kalau kopinya Cuma setengah cangkir saja. Tidak dinyana, ternyata beliau bersedia. Kebiasaan itupun akhirnya sering aku lakukan setiap bertemu beliau.
Ternyata, pemberian yang sedikit itu pun berbuah banyak. Pada akhir Tahun 1999 aku dapat beasiswa tugas belajar ke kota Malang untuk menyelesaikan pendidikan S1. Sebuah kejutan yang luar biasa, sebelum berangkat Pak Suyatna membekali aku sejumlah uang yang cukup buat aku untuk bayar DP uang sewa rumah selama kuliah.
Keajaiban pemberian sederhana itu pun berlanjut. Tiap ketemu, Pak Suyatna sering memberiku sejumlah uang sekedar untuk menambah bekal hidup yang kala itu masih pas-pasan. Maklum statusku kan Cuma PNS golongan II. Puncaknya terjadi Tahun 2005. Nasib baik Pak Suyatna promosi ke level pejabat eselon 3 ternyata menjadi cikal bakal untukku berngkat ke Baitullah untuk pertama kalinya. Pak Suyatna ditugaskan untuk melakukan audit ke Kedutaan Besar Turki dan Mesir. Tidak disangka ternyata beliau menyertakan aku untuk menjadi salah satu anggota tim audit itu. Suatu hal yang cukup istimewa, mengingat aku bukanlah anak buahnya karena aku berada di unit kerja yang berbeda.
Perjalanan itu pun menjadi sejarah besar dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku bisa pergi ke luar negeri, tidak tangung-tanggung, langsung tiga Negara. Perjalanan di mulai dengan kegiatan audit di Turki dan dilanjutkan ke Negeri Mesir. Skenario perjalanan pulang ke Indonesia memang harus transit, kalau tidak via Dubai, ya lewat Jeddah. Tentu saja kami memilih pulang transit via Jeddah agar bisa sekalian menjalankan ibadah umroh. Untuk keperluan itu, kami meminta izin cuti untuk melanjutkan umroh ke Mekkah. Selepas itu, kami pun melanjutkan ziarah ke Madinah, berziarah ke Makam kekasih Allah Rasulullah Muhammad SAW. 
Alhamdulillah, saat yang tidak dapat dilupakan. Bergetar rasanya hati saat mengucapkan kalimah talbiyah. Air mata pun bercucuran. Betapa besar karunia yang telah Allah karuniakan, terlebih saat itu memasuki bulan suci Ramadhan.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu
Betapa besar karunia yang aku terima saat itu. Tidak pernah bosan kuucapkan rasa syukurku kepada Yang Maha Kuasa Sang Pemberi Rahmat. Janji Allah adalah benar. Kita hanya perlu yakin karena karunia itu mudah bagi Allah SWT untuk diberikan kepada siapa saja yang Ia suka. 

Baca Juga:
Apa itu gelombang Alpha, Beta, Tetha dan Delta
Free Download MP3 - Murotal Sh. Saad Al Ghamidi
Value Based Leadership: Sebuah Journey Menuju Penciptaan Karakter Seorang Pemimpin yang Memiliki Nilai Manfaat

 

No comments:

Post a Comment