Monday, 1 September 2008

“Penyakit” Sebuah Pesan Dari Allah Untuk Manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui orang yang menderita suatu penyakit menahun seperti jantung, kanker, darah tinggi dan sebagainya berusaha berobat ke sana kemari demi mendapatkan kesembuhan. Ada kalanya sebagian dari mereka sadar bahwa musibah tersebut adalah pemberian dari Allah dan kemudian bersabar dan bertawakal kepada Allah kemudian akhirnya Allah bimbing kepada suatu jalan keluar yang menjadi sebab kesembuhan penyakitnya. Bahkan ada yang sembuh dari penyakit-penyakit tersebut hanya dengan memperbanyak sodaqah, mendirikan shalat malam atau melakukan ibadah-ibadah yang selama ini tidak pernah mereka kerjakan.
Hal itu bisa terjadi karena bagi orang mukmin musibah yang menimpa adalah ujian dari Allah yang dimaksudkan untuk meningkatkan derajatnya atau untuk menjadi kiparat atas dosa yang pernah dibuatnya.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, nestapa, bencana, derita, penyakit, hingga duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah, dengannya akan mengampuni kesalahan-kesalahannya.” Tentu saja ini bagi orang yang bersabar, yang mengharapkan ridha Allah dan sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Yang Maha Tunggal dan Maha Pemberi.

Sementara sebagian yang lain hanya mengandalkan akalnya dengan terus berobat ke sana kemari dan kemudian mereka terjebak pada keadaan di mana mereka harus selalu mengeluarkan uang untuk beli obat agar tubuhnya terasa sehat, tensinya terkendali, gula darahnya dalam batas normal, kolesterolnya tidak melewati ambang batas dan lain sebagainya. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar bahkan berobat sampai ke luar negeri demi untuk mendapatkan kesembuhan, padahal kalau untuk menolong orang lain, uang sepeser pun sulit untuk mereka berikan, kalupun diberikan, pemberian diikuti dengan perkataan yang menyakitkan. Sungguh mereka lupa bahwa jiwa mereka berada di tangan Allah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Mereka sungguh ketakutan bahwa sakit yang mereka derita akan membawa kepada kematian yang datang tiba-tiba, padahal umur manusia sudah ditentukan oleh Allah ketika mereka masih di dalam perut ibunya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Allah azza wa jalla memerintah Malaikat menjaga rahim, maka ia tanya: Ya Rabbi, masih berupa nuthfah (mani), ya Rabbi sudah berupa alaqah (darah beku), ya Rabbi berupa mudhghah (segumpal daging), maka apabila akan dijadikan, ditanyakan laki-laki atau wanita, nasib baik atau jelek, apakah rezekinya, ajalnya. Maka tulis semuanya ketika berada dalam perut ibunya. (Bukhari, Muslim).

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raaf : 34)

Saat ini manusia banyak yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan, bahkan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai ”Tuhan” mereka. Mereka berpendapat bahwa segala persoalan hanya bisa selesai dengan ilmu pengetahuan padahal akan tiba saatnya di mana ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ada kisah nyata di mana seorang pasien darah tinggi berobat kepada dokter ahli jantung dan pembuluh darah. Dokter itu meyarankan agar si pasien melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kadar kolesterol, gula darah, koagulasi, ureum dan kreatinin untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi baik atau tidak. Selain itu si pasien juga disarankan untuk melakukan USG ginjal dan jantung serta menjalani tes treadmill untuk mengetahui kondisi jantung si pasien. Dari serangkaian tes itu ternyata keadaan si pasien baik-baik saja akan tetapi tensinya tetap tinggi. Mengetahui semua hasilnya baik si pasien bertanya kepada sang dokter,”saya kenapa dok?”. Si dokter pun menjawab ”tidak tahu, kita sudah melakukan semua tes dan tidak ditemukan ada kondisi yang mengkhawatirkan” lalu si pasien bertanya lagi ”kenapa tensi saya bisa tinggi” sang dokter menjawab ”ya, pembuluh darahnya aja maunya begitu. Sudah anda minum saja obat penurun tensi seumur hidup.” Sepulangnya dari dokter tersebut si pasien kemudian terpaksa minum obat setiap hari untuk menjaga agar tekanan darahnya tetap normal. Seiring perjalanan waktu si pasien pun kemudian menyadari bahwa segala persoalannya harus dikembalikan kepada Sang Pemilik segala urusan yaitu Allah. Puasa sunah Senin Kamis, sodaqah dan sholat malam pun dijalaninya, dan akhirnya tekanan darahnya pun terkendali tanpa harus minum obat dokter dengan izin Allah.
Dalam kasus tersebut, dalam memecahkan suatu masalah, manusia sering hanya mengandalkan akalnya. Ketika tekanan darah seseorang naik, dokter menyelidiki penyebabnya apakah karena kolesterol atau gula darahnya tinggi, atau fungsi ginjalnya terganggu kemudian dokter memberikan resep untuk mengatasi masalah tersebut. Ketika penyakitnya tidak juga sembuh dokter terus menyelidiki penyebab dari kondisi yang yang dianggap sebagai masalah kemudian menulis resep, sampai tiba pada titik tertentu misalnya fungsi ginjalnya tidak berfungsi dokter tidak dapat lagi mengidentifikasi penyebab dari akar permasalahan timbulnya penyakit si pasien dan biasanya dokter menyarankan untuk tranplantasi ginjal. Itulah yang disebut dengan causa prima yaitu ketika manusia terus bertanya tentang sebab primer dari suatu kejadian yang ada di muka bumi ini, maka kesadaran yang benar akan membawa manusia pada kesimpulan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Maka tidak jarang kita menemukan seseorang yang menderita suatu penyakit yang menurut vonis dokter sudah sangat kronis dan tidak mungkin diobati namun dapat sembuh dengan cara yang kadang-kadang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu kedokteran yang paling modern sekalipun.
Oleh karena itu, ketika manusia sadar bahwa masalah sebenarnya di balik semua keadaan yang terjadi pada dirinya adalah karena dia menyimpang dari jalur Ilahi, maka obat dari penyakit sebenarnya adalah kembali kepada jalan yang lurus yang telah digariskan oleh Allah. Maka tak heran jika hanya dengan beristigfar, kemudian memperbaiki diri dengan memperbanyak amalan seperti sadaqah atau shalat malam, maka penyakit yang di deritanya bisa sembuh tanpa obat dari dokter.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangannya sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura:30).

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al An’am : 17)


Kita sering melihat fenomena bahwa untuk penyakit yang sama, ada orang yang sembuh dengan obat herbal yang bisa di dapat dengan harga murah, ada juga yang sembuh dengan obat yang harganya murah (generik), ada juga yang baru bisa sembuh kalau dengan obat paten. Ada seseorang yang divonis oleh dokter mengalami gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah, namun sebelum berangkat haji orang tersebut berikhtiyar dengan minum jus kurma+kismis+air zam dan alhasil penyakitnya sembuh dan dapat menjalankan ibadah haji tanpa halangan. Itu semua karena segala sesuatu hanya terjadi jika Allah mengizinkan sesuatu itu terjadi dan hal tersebut berhubungan dengan spiritual (spirit = roh) seseorang atau menurut pendapat pandangan psikologi islam karena roh adalah pusat orientasi dari berfungsinya jiwa, akal, raga, atau perilaku dan roh menjadi media penghubung antara Sang Pencipta dan makhluknya. Roh pada manusia – memerankan fungsi istimewa – melampaui fungsi raga, akal dan jiwa, dalam melakukan dialog dengan Allah sang pencipta.

Dan, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha:124).

Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS. Al-Jin:16).

Pada dasamya sifat asal manusia adalah baik dan selalu ingin kembali kepada Kebenaran Sejati (Allah). Namun, ketika potensi luhur itu tidak dikelola dengan baik, manusia terjerembap dalam kegelapan yang destruktif. Jadi segala bentuk perilaku menyimpang sebenarnya akibat dari tidak berfungsi secara maksimalnya potensi luhur manusia tersebut. Sifat asli manusia yang pada dasarnya baik dan dalam psikologi Islam disebut sebagai fitrah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al A’raaf :172)

Menurut Prof. Dr. Achmad Mubarok, M.A. dalam menyelesaikan persoalan seyogyanya manusia mengandalkan Kecerdasan Spiritual (SQ). Kecerdasan tersebut ditandai dengan kemampuan memandang masalah secara batin sebagai lawan dari pandanqan mata kepala. Jika pandangan mata kepala terhalang sekat ruang dan waktu. Orang yang memiliki kecerdasan spitual bukan saja bisa melihat hal-hal di balik ruang tetapi juga bisa berkomunikasi dengan siapa saja di masa lalu dan yang akan akan bermain di masa depan.
Demikianlah, segala persoalan yang terjadi sebenarnya sudah Allah tetapkan bahkan sebelum manusia itu diciptakan. Oleh karena itu seyogyanya manusia mengembalikan segalanya hanya kepada Allah dengan tetap berikhtiyar karena hal tersebut adalah hikmah yang Allah tetapkan karena Allah itu Maha Bijaksana (Hakiim) yang mempertautkan sebab-sebab dengan akibat-akibatnya. Manusia dilarang hanya bersandar kepada cara yang ditempuh karena akan menyebabkan tawakalnya kepada Allah semakin berkurang. Hal ini membuatnya secara tidak langsung mencela kekuasaan Allah untuk bisa mengatasi segala problema. Yaitu tatkala seorang hamba menjadikan seolah-olah hanya cara itulah yang menjadi inti keberhasilan, agar apa yang diinginkan tercapai dan apa yang tidak disukai hilang (baca juga ”bertawakallah jika engkau beriman”).


No comments:

Post a Comment